Feeds:
Posts
Comments

Pernahkah kalian membaca Norwegian Wood karya Haruki Murakami?

Duluuu sekali saya mengidentikkan diri saya dengan karakter Naoko. Baru-baru ini saya baru sadar bahwa ada Midori juga di diri saya. Bahkan keduanya hampir sebanding takarannya. Agak susah, memang, membayangkan Naoko dan Midori berada dalam satu tubuh. Mungkin yang lebih tepat, Keduanya muncul bergantian. Pada satu waktu saya berperilaku seperti Naoko, dan pada saat yang lain –mungkin hanya dalam selang waktu yang sangat pendek– saya berpolah seperti Midori. Mereka berdua ada dalam diri saya.

Naoko dan Midori adalah dua karakter yang tidak bertemu di novel ini. Keduanya dihubungkan oleh sang karakter utama, Toru Watanabe. Secara sederhana, Naoko adalah cinta pertama Watanabe dan Midori adalah cinta yang lebih ‘menjanjikan’. Keduanya digambarkan memiliki kepribadian yang kontras.

Dalam masa-masa bersama Naoko, hidup Watanabe serasa mengalir datar, kegembiraan kecil yang bursty, dan kadang meledak-ledak oleh kegelisahan Naoko. Sangat sendu, seperti berusaha memandang secara postif padahal dibalut ketat oleh pesimisme. Di sisi yang lain, pada masa-masa bersama Midori, hidup Watanabe seakan penuh dengan kejutan-kejutan kecil. Gadis aneh yang spontan dan selalu curious. Ceria dan Gila, tapi gadis seperti ini bukannya tidak menyimpan beban hidup. Bisa dibilang ia memiliki kekhawatiran dan kegelisahan seperti Naoko, hanya saja diungkapkan dengan cara yang berbeda. Naoko dengan kesenduan, Midori dengan tingkah-tingkah aneh.

Duluuu sekali saya mengira Naoko lah yang benar-benar dicintai Watanabe. Ternyata tidak, kemunculan Midori mengubahnya. Watanabe pun sejatinya telah terperangkap dalam ‘sumur’ itu. Sumur di sini adalah sebiah analogi yang dikemukakan Murakami di awal novel. Sebuah analogi yang dalam, menyayat, dan mengerikan.

…Sumur itu tepat berada di depan perbatasan antara ujung padang rumput dan mulut hutan. Lubang gelap begaris-tengah satu meter itu menganga di tanah, dan terlindung rapi oleh rerumputan. Di sekelilingnya tidak ada tembok ataupun tumpukan batu yang agak tinggi. Melulu mulut lubang itu yang menganga. …

…Aku coba melongok ke dalam lubang itu dengan mencondongkan tubuh namun tak terlihat apapun. Satu-satunya yang kutahu adalah sumur itu bukan main dalamnya. Kedalaman yang tak dapat kuperkirakan. Dan di dalam lubang itu cuma ada kegelapan –seolah godokan hitam pekatsegala macam kegelapan dunia.

“Sumur itu betul-betul dalam,”

“Sangat dalam. Tapi tak seorang pun tahu di mana letak sumur itu. Tapi pasti ada di suatu tempat di sekitar sini.”

“Sungguh.”

Apa kalian dapat merasakannya? Sangat sendu.

Ah, me-review novel ini mebuatku tidak sanggup banyak bebicara lagi. Tahukah kalian, novel ini sangat mudah mempegaruhi saya, membolak-balikkan mood saya. Membaca novel ini sama saja membuat saya berada dalam tubuh Naoko yang bimbang.

N

There is pleasure in the pathless woods
There is a rapture on the lonely shore
There is society, where none intrudes
By the deep sea, and music in its roar
I love not man the less, but Nature more

Barisan kalimat yang mengawali film Into The Wild. Film inspirasional yang sangat menyentuh. Sudah berkali-kali, berulang-ulang, tadi malam pun saya menontonnya lagi. Alexander Supertramp.
Barisan kalimat itu juga lah yang saya pakai untuk mengawali blog ini.

Nature. Dengan N besar.
Mari bermain! :D
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.